Kamis, 24 Januari 2013

Ki Ageng Mangir Wanabaya - Pembayun , Jejak Pahlawan di Kali Sunter Tapos Depok

Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah suami Kanjeng Roro Sekar Pembayun, putri Panembahan Senopati ing Mataram, perkawinan tunggalnya menghadirkan putra ki Bagus Wanabaya yang lahir di Pati Jawa Tengah pada tahun 1588, Bagus Wanabaya bersama ibunya sempat berguru pada Pangeran Benawa otra Joko Tingkir diwilayah Kendal Jawa tengah. Pada tahun 1818 bagus Wanabaya bertempur dipihak Mataram dibawah pimpinan Ki Bahurekso melawan Pos VOC di Jepara Jawa Tengah, pertempuran Jepara tersebut dimenangkan oleh pihak Mataram. Selanjutnya Ki bagus Wanabaya bersama keluarga besar Kanjeng Roro Sekar Pembayun hijrah ke Pajajaran untuk bertemu dengan orangtua Nyimas Linggar Jati istri Ki Bagus Wanabaya, adik dari sahabat karibnya yaitu Purwagalih atau disebut Ki Jepra (jenazahnya dimakamkan didalam Kebon Raya Bogor Jabar) selanjutnya karena mereka sudah berkomitment untuk membangun jaringan intelejen mataram di Batavia rombongan veteran Perang Jepara 1618 itu kembali menduduki pos di wilayah Banjaran Pucung Cilangkap Tapos Depok tepat di mata air Kali Sunter, mereka mendirikan basis gerilya dengan bimbingan Pangeran Jayakarta yang saat itu berkedudukan di Batavia diwilayah Jatinegara. Ki Bagus Wanabaya memimpin sekitar 80 tentara Mataram yang merupakan pasukan khusus yang bergerak dalam wilayah Benteng Batavia, merekalah pasukan Pandu Mataram yang kelak mempunyai peranan penting saat Sultan Agung menyerang Batavia di tahun 1628 - 1629. Sayangnya Kanjeng Roro Pembayun tak bisa menikmati buah kemenangan Mataram, beliau meninggal di Jatinegara 1625 tertembak pasukan VOC yang sedang menyerbu Pos Pangeran Jayakarta. Jenazahnya dimakamkan di Keramat Kebayunan Tapos Depok. Pada tanggal 20 September 1629 Nyimas Utari Sandijayaningsih, putri Bagus Wanabaya yang menyamar sebagai penyanyi cafe Batavia berhasil menjebak Jaan Pieters Soen Coen kedalam kamar pribadinya dan malam itu Yaan Pieter Soen Coen gubernur jendral VOC terbunuh . Dalam laporan resmi VOC JP Coen wafat akibat penyakit kholera pada tanggal 21 September 1629 kedudukannya digantikan oleh gubernur jendral Jaques Specx. Pasukan sandi khusus Mataram yang berhasil membunuh JP Coen membawa kepala JP Coen untuk diserahkan kepada Panembahan Juminah sebagai Jendral Mataram di Batavia, keberhasilan ini membuat Sultan Agung menerima saran Panembahan Juminah untuk menghentikan serbuan Mataram ke Batavia. Walaupun tak ada jasa bagi Ki Bagus Wanabaya dan keluarganya atas semua jerih payah perjuangan di benteng VOC, namun ia masih tetap berjuang hingga wafat dan dimakamkan di dekat ibunya di Kebayunan Tapos Depok,

Roro Sekar Pembayun Istri Ki Ageng Mangir , Pahlawan Mataram yang menjadi sesepuh Tapos Depok Jawa Barat.

Roro Pembayun adalah buah hati dan kesayangan Kanjeng Panembahan Senopati Mataram, Perjuangannya meruntuhkan hati Ki Ageng Mangir dan menjadikan Mangir sebagai kekuatan baru di Mataram membuat para adipati yang memberontak pada Mataram kuatir dan menyusun kekuatan dalam istana Mataram di Kotagedhe untuk membunuh Ki Ageng Mangir, dan itu bisa terlaksana oleh kesaktian Raden Ronggo putra Panembahan Senopati yang lain, Ki Ageng Mangir wafat di tempat Panembahan Senopati biasa shalat, ya diatas watu gilang (yang bukan singgasana raja) lah tempat wafatnya Ki Ageng Mangir. Watu Gatheng sebagai alat bukti sampai sekarang masih terlihat disamping Watu Gilang . Meski suami tercintanya telah meninggal Roro Pembayun adalah sosok pejuang wanita yang tak kenal menyerah, dibesarkannya sang anak semata wayang Bagus Wonoboyo di bumi padepokan Benawa putra Joko Tingkir di Kendal Jawa Tengah, berjuang melawan VOC Belanda di palagan Jepara 1618 dan bersamanya ikut berjuang di palagan Matraman Jatinegara bersama dengan Pangeran Jayakarta sampai wafatnya di Jatinegara pada tahun 1625, kini jenazahnya dimakamkan di Kramat Kebayunan Tapos Depok. Tepat dipinggir jalan Tol Jagorawi di pintu keluar Cimanggis, Jejak sedih pahlawan wanita yang berjuang dan bertempur jauh dari tempat kelahirannya.

Ki Ageng Mangir - Pembayun, Cucunya tentara Sandi Pembunuh Gubernur Jendral VOC JP Coen di tahun 1629

Suasana Komplek makam Nyimas Utari Sandijayaningsih, anggota pasukan khusus Mataram 1629 yang bergerak didalam benteng VOC Batavia, putri Ki Bagus Wanabaya putra Ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun ini adalah pahlawan wanita Mataram yang membunuh dan memenggal kepala Jan Pieters Zoen Coen, Gubernur Jendral VOC ke IV dalam perang Batavia Mataram 1628 -1629. keberadaanya sebagai tentara telik sandi Mataram membuat peranan pentingnya sebagai salah satu penentu sejarah perang Mataram - Batavia tak pernah terungkap Lokasi makam Nyimas Utari Sandijayaningsih berada di Kampung Tapos kec. Tapos Depok Jawa Barat. persis di pinggir jalan Tol Jagorawi pintu Cisalak - Cimanggis.

Selasa, 01 Januari 2013

Mahesa Jenar, Sosok Pahlawan yang rendah hati

Di sebuah tempat di lereng Gunung Merapi dipercaya sebagai tempat bertemunya tiga tokoh, Kebo Kanigara, Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging – ayah Joko Tingkir), dan seorang prajurit Demak bernama Rangga Tohjaya.Dalam sebuah cerita silat populer yang berjudul Nagasasra dan Sabuk Inten, karangan S.H Mintardja, Mahesa Jenar menjadi tokoh utamanya. Dalam cerita tersebut, Mahesa Jenar merupakan murid Pangeran Handayaningrat, bersama-sama dengan Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Kemudian dalam cerita yang berseting pada masa keemasan Kerajaan Demak ini, Mahesa Jenar mengabdikan diri sebagai prajurit di Demak. Sebagai prajurit ia berjasa dalam mengamankan dua keris pusaka, Keris Nagasasra dan Sabuk Inten yang dicuri oleh penjahat terkenal bernama Lawa Ijo dari Alas Mentaok (Kotagede). Atas jasa itu ia memperoleh gelar keprajuritan dengan sebutan Rangga Tohjaya. Pada suatu kali ia berkelana, dan menggunakan nama Manahan.

Trah Mangir : Hafidz Ammar anakku, Tidak Gampang Menjadi Pemimpin


Pemimpin bukanlah orang sembarangan, atau sembarang orang. Pemimpin harus mampu menjadi sosok yang bisa dijadikan teladan bagi rakyatnya ataupun keluarganya. Maka, dalam sejarah perkembangan Jawa, sosok pemimpin tidak hanya dipilih oleh manusia, tetapi juga merupakan pilihan leluhur-leluhur yang berupa pangestu, ataupun wahyu (bukan wahyu yang sama seperti yang diterima oleh Nabi dan Rosul). Dengan demikian, orang tersebut pastilah telah lulus ujian yang diberikan oleh manusia, dan tentunya ujian Tuhan dengan perantara leluhur-leluhur masa lalu. Hal ini berarti dua sisi kemanusiaannya, spiritual dan jasmaninya telah lulus dari serangkaian uji coba atau serangkaian ujian.

Selasa, 25 Desember 2012

Trah Mangir dan Nurmahmudi Ismail, walikota Depok Jawa Barat

memang seharusnya sebagai pemimpin kota Depok meninjau kebawah , keladang dan kebun kebun petani,dan seperti biasa , sebagai Trah Mangir, aku dituntut untuk kreatif membangun umat, antara lain menanam kol dataran rendah di kota Depok, dan memang setelah itu Depok akan bertebaran dengan petani Kol.

Sultan Agung ing Mataram dan Hafidz Ammar, trah Mangir di Tapos Depok

Raja yang besar, keturunan orang orang yang besar, pejuang yang tangguh, petarung yang cerdik, psikolog massa yang mampu menyatukan umat.